»
S
I
D
E
B
A
R
«
Indonesia di tengah keragaman budaya dunia
April 22nd, 2010 by Admin PPIA

PPIA, sejak setahun terakhir telah memantapkan diri untuk selalu berpartisipasi dalam acara budaya yang digelar oleh UoW. Kali ini, PPIA kembali aktif meramaikan Diversity Week yang digelar dalam berbagai bentuk acara. Pada tanggal 21 April 2010, tepat saat Hari Kartini, PPIA memperkenalkan Martabak telor kepada civitas akademika UoW dari berbagai negara, termasuk tentu saja Australia sebagai tuan rumah. Adalah Yugo, Kiki dan Eky yang menjadi pelaku utama dalam kegiatan ini. Selain itu, dukungan yang luar biasa diberikan oleh Lydia, Ajeng, Reza, Hanna, Chris, Namora, Edo, dan lainnya yang membantu memasak dan dokumentasi.

Tim Indonesia telah siap menempati salah satu stand di Duck Pond bahkan sebelum tim dari Negara lain datang. Bahan martabak yang Nampak seperti magic potion rupanya telah disiapkan dari rumah sehingga tinggal dibungkus dengan kulit spring roll dan siap digoreng. Sebelum acara dibuka secara resmi, para chef PPIA yang nampak professional telah memulai aksinya. Melihat aktivitas menarik itu, para pengunjung mulai berdatangan. Tahu bahwa PPIA menyajikan martabak telor gratis, antrian pun mulai mengular. Memang hanya PPIA yang menyuguhkan acara memasak makanan di tempat. Sementara beberapa stand lain, termasuk Malaysia, China dan Iran, hanya menyajikan makanan jadi. Kata seorang kawan, Indonesia yang paling pe-de, menyuguhkan makanan yang dibuat secara live.

Sementara itu, dari panggung yang terletak tidak jauh dari stand berdiri, mengalunlah berbagai lagu. Diantara lagu-lagu dari berbagai negara itu, lagu Indonesia cukup mendominasi. Yang cukup berkesan dan membuat mahasiswa Indonesia bertepuk tangan bersemangat mengikuti ketukan lagu, adalah yang dibawakan oleh Coklat: BENDERA. Saat bagian yang puncak dari lagu berkumandang “Merah putih teruslah kau berkibar, di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini”, tepuk tangan semakin seru. Ada perasaan berbeda –mungkin ini namanya nasionalisme– mendengar lagu itu berkumandang di Australia, di tengah interaksi bangsa-bangsa. Tidak berhenti di situ, lagu Gigi pun, Nationalism, berkumandang diikuti oleh Sang Pemimpi, sound track film yang sedang tenar di tanah air. Lagu lainnya adalah dari Gita Gutawa. Singkat cerita, siang hingga sore itu, lagu-lagu Indonesia menjadi sound track aktivitas di UoW.

Sementara itu, antrian mereka yang ingin mencicipi martabak semakin panjang. Meski cuaca cukup panas untuk ukuran musim gugur, para pengantri tetap tertib berbaris. Di tengah antrian itu, terlihat beragam ras dan bangsa: Asia, Afrika, Australia dan mungkin juga Amerika dan Eropa [jujur saja, kami tidak sempat menanyai satu-satu]. Yang jelas, dari sekian banyak orang, mahasiswa Indonesia tentu saja cukup banyak. Meskipun sudah sering makan martabak, tetapi martabak gratis yang digoreng teman sendiri tentu terasa beda. Atau anggap saja ini bentuk penghargaan dan dukungan kepada teman-teman yang sudah susah payah memasak.

Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba datang seseorang berkebangsaan Indonesia yang selama ini tidak pernah bergabung dengan kegiatan PPIA karena berstatus sebagai pekerja. “Saya datang karena mendengar lagu Indonesia” katanya, pada Andi, ketua PPIA. Lagu memang bahasa universal, bisa menyatukan banyak orang.

Karena banyaknya yang meminati, PPIA sempat kehabisan bahan kulit martabak dan harus membeli lagi. Ini sempat membuat aktivitas terhenti sejenak, dan ntrian itu pun sempat bubar. Meski begitu, tidak lama setelah bahan siap kembali, antrian kembali terbentuk dan kini semakin panjang. Melihat ini, stand Indonesia jadi terkesan mendominasi sementara ada stand lain yang bahkan tidak ada pengunjungnya. Selain lagu, makanan adalah juga bahasa universal, dapat mendatangkan banyak orang.

Selain untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada bangsa lain, kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh mahasiswa Indonesia untuk berkumpul dan bersilaturahim. Mereka berbagi cerita melepas lelah dan penat dari kuliah dan riset yang cukup memusingkan. Kumpul-kumpul dengan saudara sebangsa di tanah rantau sambil menikmati lagu ”wajib” yang membangkitkan nasionalisme dan menikmati martabak telor yang hangat, tentu saja obat mujarab untuk membuat suasana hati jadi santai, walau sejenak. Menjelang jam 3 sore, saat acara ditutup, stand Indonesia masih yang paling ramai. Ketua PPIA, atas saran para chef PPIA, mengundang teman-teman dari Malaysia untuk menikmati martabak yang masih tersisa. Inilah inti dari diversity week, menghargai keragaman dan menjadikannya alat untuk bersahabat. Kali ini martabak yang jadi alasan itu.

Setelah stand ditutup dan alat-alat dibersihkan, semua kembali ke kewajiban masing-masing. Ada yang kuliah, ada yang melanjutkan belajar karena sebentar lagi ujian, ada yang kembali ke lab, group meeting dan juga tesis. Intinya, semua orang kembali ke laptop, kehidupan nyata sebagai mahasiswa, dimulai lagi.

PPIA menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada tim yang menyiapkan dan memasak martabak dan pengunjung yang memberikan dukungan luar biasa. Kepada pihak penyelenggara Diversity Week yang memberikan dana, PPIA juga menyampaikan apresiasi yang tinggi.


Comments are closed

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa