»
S
I
D
E
B
A
R
«
Fusal Persahabatan dengan Malaysia
April 9th, 2010 by Admin PPIA

Orang menyebut Indonesia dan Malaysia adalah dua bangsa serumpun. Pernah juga dikenal istilah abang dan adik Nusantara bagi keduanya yang memang berbagi banyak budaya. Layaknya dua sahabat atau bahkan saudara, cerita antara keduanya tak selalu bahagia, kadang kerikil-kerikil kecil terjadi dalam hubungan dua negara. Meski begitu, tetap ada keyakinan bahwa Indonesia dan Malaysia akan baik-baik saja.

Tidak begitu terpengaruh dengan hiruk pikuk politik yang kadang memanas antara kedua negara, Mahasiswa Indonsia dan Malaysia di Wollongong memilih untuk bersahabat baik. Interaksi yang sudah lama terjalin antara kedua masyarakat dikuatkan dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan bersama. Kali ini, Futsal dipilih untuk mempererat jalinan itu. Malaysian Association for Students (MAS) mengundang PPIA untuk bertanding Futsal pada tanggal 9 April 2010. Mengingat PPIA punya tim Futsal yang telah membuat lapangan Fraternity Club jadi seperti halaman belakang rumah sendiri, tentu saja tantangan ini seperti hujan di musim kemarau (cocok nggak nih pepatah di pasang di sini?). Intinya, tantangan ini dilayani dengan penuh gairah oleh para pemain Futsal PPIA.

Pertandingan sore itu dilakukan di University Recreation and Aquatic Centre (URAC) Sport Hub (indoor). Kedua tim telah bersiap-siap dengan kostum masing-masing yang ternyata tidak seragam. Kesepakatannya sederhana saja: Indonesia menggunakan warna putih, Malaysia memakai warna hitam. Masih untung kesepakatannya tidak seperti sepak bola amatir di SD dulu: satu tim pakai baju, satu tim telanjang dada. Apa kata dunia?!

PPIA menurunkan tim andalan yang terdiri dari mahasiswa S1 dan S2 yang telah secara rutin berlatih setiap hari Sabtu (jadwalnya pasti, kecualijika ada assignment yang menumpuk). Sementara itu MAS rupanya juga menurunkan tim andalannya yang nampak siap dan semi profesional. Ini terlihat saat pemanasan. Mereka melakukan pemanasan secara sistematis dan seragam, sementara tim Indonesia santai dan bebas berekspresi. Seorang kawan berkelakar ini menunjukkan bangsa kita sudah bukan demokrasi terpimpin lagi.

Sebelum pertandingan berlangsung, tentu saja ada adegan berfoto bersama seperti yang terlihat di atas. Saat pertandingan dimulai, penonton bertepuk tangan memberi semangat. Jumlah supporter PPIA dan MAS nampaknya berimbang, meskipun kenyataannya belum setengah anggota PPIA yang datang menyaksikan. Masih untung banyak teman yang mengerjakan tugas atau proposal. Jika tidak, gedung URAC bisa penuh diinvasi PPIA. Tentu saja ini juga tidak bagus untuk psikologi lawan yang akan merasa terintimidasi :)

Gol pertama disarangkan oleh Tim Indonesia melalui tendangan Terry yang memukau. Sontak stadion yang besar itu riuh oleh tepuk tangan dan teriak penonton Indonesia dan keluhan yang cukup panjang dari supporter MAS. Para penonton PPIA mulai berani berspekulasi. Ada yang bahkan bilang dari tampang, kita sudah kelihatan akan menang. Namun kebanggaan itu ternyata tidak berlangsung lama karena sesaat kemudian MAS menyamakan kedudukan. Pertandingan pun berjalan alot diwarnai pergantian pemain yang cukup sering. Selain karena lelah, ada kesepakatan untuk memberi kesempatan kepada semua orang untuk bermain.

Gol kedua atas nama PPIA dicetak oleh Wenson, cukup telak merobek gawang MAS. Tentu saja gemuruh sorai kembali membahana. Percaya Diri tumbuh lagi. Di saat yang kritis seperti itu, MAS memberi kejutan dengan menurunkan satu anak SD (atau paling banter SMP). Entah karena merasa di atas angin melihat anak kecil diturunkan atau karena alasan lain, si bintang cilik ini dengan lincah mengecoh pertahanan PPIA. Dia kemudian dengan jitu merobek pertahanan keeper PPIA. Luar biasa! Yang tadi sepertinya tidak diperhitungkan ternyata mampu mencetak gol dengan gaya yang lumayan memukau. Belakangan diketahui bahwa si bintang cilik ini adalah putra dari salah seorang mahasiswa S3 Malaysia. Memang dia kecil-kecil cabai rawit.

Pertandingan berjalan semakin seru, pergantian pemain menjadi semakin sering. Dengan pola serangan yang cukup dinamis, PPIA kembali menguasai permainan. Dengan tembakan yang jitu, Terry kembali menyarangkan bola di gawang lawan. Kini kedudukan menjadi 3-2. Seperti tadi, PD kembali menguasai pemain dan terutama penonton. Sementara itu, Mas Afief yang berlaku sebagai Coach (atau setidaknya demikian gerak geriknya) tidak henti-hentinya memberikan support dan nasihat strategis dari luar lapangan. Kalau saja Mas Afief mengenakan jas resmi, tentu tak ubahnya seperti Guus Hiddink.

Malang tak dapati ditolak, untung tak dapat diraih, Malaysia kembali menyamakan kedudukan dengan sebuah gol hasil kemelut di depan gawang. Lagi-lagi si bintang cilik terlibat dalam prahara ini, meskipun tidak secara langsung membuat Gol. Pelajaran moral dari kisah ini adalah: jangan remehkan yang kecil.

Hingga waktu habis, kedudukan tetap 3-3 dan kedua tim bersepakat untuk tidak melanjutkan. Pertandingan perdana antarnegara dengan hasil seri tentu saja adalah fenomena yang menarik. Sangat manis, setelah sama-sama menunjukkan kedigdayaan masing-masing, tak ada yang kalah, tak ada yang menang. Bukankah ini hasil yang sangat baik? Meski demikian, karena sesungguhnya PPIA dan MAS sudah patungan menyiapkan hadiah medali emas dan perak, maka hadiah disimpan dulu untuk diberikan nanti saat pertandingan selanjutnya. Artinya, kisah ini tidak akan berhenti di sini.

Setelah bersepakat untuk tidak melanjutkan pertandingan, pemain dan supporter saling bersalaman layaknya dua sahabat yang mengakhiri sebuah kompetisi dengan sportivitas tinggi. Pejabat PPIA dan MAS pun saling bersalaman dan saling mengapresiasi. Acara dilanjutkan dengan menikmati hidangan ringan yang disediakan masing-masing. Sebagai tanda persahabatan yang tulus, MAS mengundang PPIA untuk mencicipi hidangan mereka. Akhirnya diputuskan untuk menggabungkan makanan, dan minuman PPIA dengan logistik MAS. Maka berbaurlah masyarakat dua bangsa itu dalam kerumunan menikmati makanan ringan. Sebuah kompetisi yang cantik berakhir dengan persahabatan yang hangat.

PPIA mengucapkan terima kasih kepada semua pemain, supporter yang telah datang dan berteriak-teriak demi bangsa dan tanah air, Aprina yang telah membuat pancake dan bubur kacang ijo (laris banget di kalangan MAS), teman-teman WIBG yang karena kecintaannya terhadap Indonesia sampai harus membatalkan latihan rutinnya sore itu. Secara khusus, PPIA juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada sahabat dari MAS atas kehangatannya. Lain kali kita bertanding lagi.


Comments are closed

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa